This video is the sequel from my latest video called This is Indonesia… #1 (vimeo.com/17910188).
This is my several best momment video shot for SAHABAT ALAM – DAAI TV Indonesia.
This video pictures was taken @ North Sumatera, Indonesia, i.e. : Mountain Sinabung, Lake Toba, Samosir Island and also Sipiso-Piso Waterfall.
√ use Sony DSR PD 170
√ Final Cut Pro for Edit
√ Music Composed By James Horner – Climbing Up Iknimaya (The Path To Heaven)
Kemanapun angin membawa dan bumi dipijak,
kita akan terus berkarya sampai mata menutup terhadap bumi…
-Ces’t La Vie & Carpe Diem-
Grazie, Amico…
Untuk setiap suka dan duka yang terkenang melalui SAHABAT ALAM yang takkan pernah terlupakan seiring dengan berjalannya waktu…
Arrivederci, Salam Sahabat…

Advertisements

Video  —  Posted: December 5, 2012 in Langkah Karya Visual
Tags: , , , , , , , ,


This is my several best momment video shot during my duties with DAAI TV Indonesia for MATAHATI and SAHABAT ALAM programme.
This video pictures was taken @ Mount Puntang, ancient Volcano Nglanggeran, Pawon Cave and Kepulauan Seribu.
√ Use Sony DSR PD 170
√ Unknown Song Title Singer/Group

Video  —  Posted: December 5, 2012 in Langkah Karya Visual
Tags: , , , , ,


Above The Lands of NTT

Nusa Tenggara Timur, Indonesia

Image  —  Posted: February 25, 2012 in Sejauh Mata Memandang
Tags: , , ,


Aku tak mengerti apa yang ada di kepala ini,

Hari ini bayangmu terngiang-ngiang terasa mendalam,

Yang ingin kulupakan tapi selalu muncul dalam pikiran…

 

Seharusnya tidak seperti ini,

Semua yang kita mulai dengan indah tanpa sebuah kata pengikat,

Semua pun begitu mudah terkikis oleh sebuah keegoisan…

 

Harus kuakui diri ini terpikat,

Namun bukan seperti sang pemburu kucoba menjerat…

 

Ada garis batas disitu kuberdiri,

Dan itu tak pernah ingin kulewati kecuali dirimulah yang menghampiri…

Kucoba menunggu dan memberikan tangan,

Tapi kau palingkan diri dan tak hiraukan aku yang menanti…

 

Ada asa yang terkandaskan,

Mencoba bertahan walau terus kau torehkan guratan,

Tanpa sebab dan juga alasan…

 

Menipu hari dengan senyum,

Begitu juga kutipu dirimu dengan keriangan palsu,

Hanya ingin dirimu bahagia,

Tak perlu kau rasakan hatiku yang tengah lebam…

 

Semoga ada tawa disana,

Berharap suram tidak menjadi gerbang kala kita bertemu suatu saat nanti…

 

©zettia_one/j.town/20110604


Kepala ini penat…

Ingin mengasah kata demi kata tapi tak hanya dalam pikiran saja…

namun ingin saling bertatap mata dengan mata…


Sesuatu mengganggu dan membuat termangu,

membuat diri membisu dan membuat senyuman palsu…

 

Ow… Ada apakah ini?

kemana segala asa yang muncul disaat dulu kerap berkomunikasi…

Semua tiba-tiba lenyap karena kau memilih untuk senyap.

 

Sia-sia dan tak bersisa,

memilih ‘tuk tak hiraukan segala kata,

seolah tak terjadi apa-apa…

 

Ada masalah apa diantara kita..?

seharusnya memang tak ada…

tanpa sadar sebuah tembok telah terbangun,

hentikan segala keramahan dalam kesatuan yang telah tersusun…

 

ingin memecah agar diri tak terus terperangah,

sepertinya mudah tapi ternyata susah…

ingin berhenti agar segala pikir tentangmu mati,

dan seharusnya diri ini mengerti untuk tak pernah peduli…

 

selepas angin membawa ku mengarah,

biar ku jejaki bumi ini sambil meredam amarah,

untuk dosa yang tak pernah kubiarkan singgah,

tetapi luka telah terlanjur memerah menghamburkan darah…

 

Laknat kah aku…?

 

zettia_one@j.town@20110329


Perbolehkan saya protes… Hari ini telinga saya terasa panas, mendengar kata-kata salah satu presenter Panasonic Gobel Award 2011 yang menyatakan bahwa ajang ini adalah Ajang Penghargaan Media Pertelevisian se Tanah Air. Jika Anda bertanya kenapa saya protes, dengan senang hati saya akan menjawab.

Saya protes... Mengapa ajang sekelas Panasonic Gobel Award 2011 mengaku sebagai Ajang Perhargaan Media Pertelevisian se Tanah Air? Jelas-jelas yang masuk kategori dan menjadi jawara hanyalah insan pertelevisian nasional, dimana kesempatan bagi insan pertelevisian lokal? Padahal jumlah TV Lokal di Indonesia jauh lebih banyak daripada TV Nasional.

Saya akan menyimpang sedikit dari pembicaraan awal.. Inilah imbas dari Otonomi Daerah yang tidak tepat sasaran, TV Lokal semakin menjamur tetapi dari segi pemberitaan mereka terbatas dan tak seluas pemberitaan TV nasional, secara pendapatan pun jadi terbatas, di mata para produsen pemasang iklah jauh lebih berarti memasang iklan di TV Nasional yang bisa dilihat hampir di seluruh Indonesia, sedangkan TV Lokal hanya sebatas area propinsi. Semakin banyaknya mahasiswa lulusan jurnalistik dan penyiaran tidak di dukung dengan ruang kerja yang TV Nasional yang hanya segelintir, yang ada hanya TV Lokal yang standar gajinya tidak besar. Lahan kerja yang sempit tidak sebanding dengan jumlah lulusan tiap tahunnya. Masih mungkinkah Otonomi Daerah bagi bidang pertelevisian itu dilegalkan. Kalau mau begini terus, percuma saja, TV Lokal akan sulit sekali bersaing dengan TV Nasional.

Saya protes… beberapa nominasi ajang sekelas Panasonic Gobel Award 2011 hanya menampilkan acara yang menjadi rating di mata insan pertelevisian, jelaslah kalau begitu kalau TV Lokal akan selalu terbanting dengan rating TV Nasional. Ditambah juga beberapa acara yang dinominasikan tidak terkesan mendidik masyarakat, yang ada justru beberapa acara yang mengajarkan masyarakat untuk mentertawakan kebodohan dan kebobrokan orang lain, juga acara yang merusak privasi seseorang. Untung masih ada Petualangan si Bolang (TRANS 7), Kick Andy Show dan Mata Najwa (MetroTV) dimana bagi saya justru acara-acara yang mendidik seperti inilah yang harus lebih sering dimasukan ke dalam beberapa kategori nominasi ajang ini.

Yah… Terserah Anda menilai ajang ini.. Ini hanya tindakan keprihatinan saya terhadap sebuah ajang penghargaan yang bisa dibilang besar dan se “Tanah Air”

zettia_one@j.town@20110326


mmhmm… 28…. bukan sebuah angka keberuntungan yang saya maksud… ini hanya tentang kisah seorang yang tak pernah berhenti mengejar mimpinya. Ya.. pengejar mimpi… dulu saya banyak diremehkan karena angan-angan saya terhadap impian-impian itu. Tuhan memang menciptakan saya seperti ini. Apakah saya protes? Tentunya tidak, malah saya bersyukur. Bersyukur karena Tuhan menciptakan saya sebagai seorang yang lebih menggunakan Otak Kanan. Dari Otak Kanan inilah muncul segala kreativitas yang tanpa saya sadari telah saya miliki dari dulu.

Memang tidak semua mimpi telah saya capai tapi, setidaknya beberapa impian telah saya capai. Dulu ketika saya masih duduk di bangku SMU, saya bermimpi menjadi seorang wartawan. Walaupun pada masa perkuliahan, ilmu yang saya dapat jauh dari yang saya angankan. Di akhir kuliah saya berjuang, mencoba mengikuti kursus yang hanya berjalan 2 bulan mengikuti sebuah pelatihan menjadi seorang cameraman.

Dengan modal sertifikat pelatihan tersebut saya melanglang buana ke beberapa stasiun tv, mungkin kalau orang bilang saya ini kepede-an, megang camera video aja baru Panasonic MD 9000 sudah bangga, bahkan saya sempat ditertawakan oleh seorang cameraman senior salah satu tv nasional ketika saya melamar di DAAI TV tempat saya bekerja saat ini. Di saat sang cameraman senior itu saya ajak ngobrol ia langsung bertanya,”Dah pernah megang camera apa aja?”. Pertanyaan itu langsung bikin saya jiper, karena pada saat itu juga cameraman senior tersebut sedang asik mengucilkan, hasil-hasil liputan anak DAAI TV yang ia tonton di lobby. Sombong sekali…!! Bahkan sampai beberapa kali saya liputan bertemunya di lapangan orang itu masih saja menunjukan keangkuhannya.

Sudahlah saya tak mau bahas dia, ini toh blog saya. Mari bercerita yang lain. Memang imbas dari pelatihan camera yang saya ambil tidak berpengaruh apa-apa di awal saya bekerja di DAAI TV. Ngambil gambar kacau, tidak mengerti ini dan itu, bahkan wawancara orang saja bisa over exposure. Sampai sekarang pun kalau saya berpikir, DAAI TV dulu terlalu beresiko merekrut saya sebagai cameraman. Beruntung sekali lingkungan kerja di tempat ini, beberapa orang mau membagikan ilmunya. Dari situlah saya belajar, memperhatikan, mengevaluasi dan tentunya tidak pernah merasa puas untuk terus ingin belajar. Akhirnya saya benar-benar menjadi seorang Cameraman Televisi.

Kehidupan tidak selalu indah… Terkadang ada asa cinta yang tinggi untuk mengejar seseorang tapi terkadang asa itu pula harus kandas. Pahitnya hidup juga telah saya alami, bahkan pernah ada yang sms saya dengan kata-kata,”Semoga tidak pernah merasakan rasanya disandiwarai…”. Anda salah… Saya sudah pernah merasakan jauh yang lebih pahit dari apa yang Anda tudingkan kepada saya, tapi saya sudah melupakan hal tersebut dan membiarkannya berlalu bersama angin demi kebaikan orang yang saya cintai. Lebih baik Anda segera koreksi diri. Dan… jangan pernah mencoba membuat luka seseorang kembali terbuka ketika Anda sedang merasakan rasa sakit itu. Percuma, bagi saya Anda hanyalah seorang pria yang belum dewasa.

Hidup itu indah… Ya… dan bumi yang saya pijak pun indah, dulu saya tidak pernah berpikir atau berkeinginan untuk menjadi seorang pecinta alam. Lah wong saya gak suka hidup di alam bebas… Bahkan sampai sekarang ini saya tidak akan pernah menyatakan bahwa saya seorang pecinta alam, saya hanyalah seorang pengagum dan orang yang berusaha mencintai alam yang diciptakan-NYA. Menjejaki hari bersama tim liputan Sahabat Alam sedikit mengubah pola pikir saya. Menjadi terpesona dan bahkan ingin terus mengabadikan keindahan alam yang Tuhan telah ciptakan. Menikmati setiap udara segar yang belum tentu dapat kita hirup setiap hari di kota Jakarta.

Saya seorang pengeluh, saya sepenuhnya menyadari hal itu, kalau otak saya lagi waras saya akan terus mencoba untuk berhenti mengeluh, tapi mohon maaf ketika tekanan terlalu berat terkadang keluhan-keluhan itu harus saya curahkan. Terimakasih untuk kawan-kawan terbaik ku bahkan orang yang pernah bersanding bersama ku, saya tahu pasti kalian terkadang bosan mendengar saya mengeluh. Terimakasih kalau kalian selalu memberikan senyuman dan kata-kata motivasi yang mampu membuat semangat hidup ini terpacu kembali.

Saya bersyukur Tuhan masih memberikan kesempatan untuk menjalani hidup ini, semoga Tuhan tidak jera dan murka terhadap saya yang sering membandel. Masih banyak impian dan angan-angan yang belum tercapai dan itu tak akan membuat langkah kaki saya terhenti sebelum mata ini menutup terhadap bumi.

Ini hanya sekelumit refleksi hidup saya ketika menjejaki 28 tahun hidup di muka bumi. Saya akan selalu berserah, karena saya tahu bahwa Tuhan tak pernah tinggal diam.

zettia_one@20110321@j.town